|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Guru Menulis » Sinergitas Kurikulum 2013 Dengan UN 2013

Sinergitas Kurikulum 2013 Dengan UN 2013

Rabu, 20 Februari 2013 09:53:39  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 417
Sinergitas Kurikulum 2013 Dengan UN 2013

Walaupun pelaksanaan ujian nasional masih perlu terus diperbaiki/disempurnakan, namun Pemerintah tetap merencanakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2013. UN 2013 tetap dijalankan dengan sejumlah perubahan. Seperti yang dijelaskan dalam POS UN tahun pelajaran 2012/2013 yang dikeluarkan BSNP, perubahan tersebut diantaranya adalah diberikannya 20 paket variasi soal, hal ini berbeda dengan UN tahun 2012 yang hanya diberikan lima variasi soal. Teknisnya, setiap peserta didik dalam satu kelas akan mengerjakan soal yang berbeda semua. Tujuannnya adalah menguji kemampuan perseorangan, bukan kolektif. Standar kelulusan tetap di angka 5,5 tidak dinaikkan menjadi 6,0 seperti wacana sebelumnya. Formulasi pada tahun 2013 adalah 10 persen mudah, 70 persen sedang, dan 20 persen sukar.

Standar kelulusan pada Ujian Nasional (UN) tahun ini tidak berubah dari ketentuan tahun lalu, yaitu nilai rata-rata UN minimal 5,5. Pola penghitungan nilai akhir juga tidak jauh berbeda.Hanya saja hasil UN dan nilai akhir pada tahun ini dijadikan salah satu syarat bagi para peserta didik untuk dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.Siswa dinyatakan lulus UN jika nilai rata-rata dari semua nilai akhir paling rendah 5,5 dan nilai minimal per mata pelajarannya 4,0

Selama Ujian Nasional (UN)  masih berfungsi seperti saat ini, yakni penentu kelulusan, perubahan kurikulum 2013 tidak berdampak signifikan dalam perubahan pembelajaran di sekolah. Penempatan UN sebagai ujian kelulusan hanya akan menyempitkan kurikulum, melanggengkan pengajaran berbasis soal ujian, dan pembelajaran bersifat hafalan. Sudah saatnya mengembalikan fungsi UN sebagai uji diagnostik pemetaan kualitas layanan pendidikan.

Dengan perubahan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ke kurikulum 2013, maka ada konsekuensi perubahan sistem tes kelulusan, sebagai alternatif pengganti sistem UN yang masih mendominasi parameter kelulusan. Beberapa perubahan yang perlu dilakukan diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, pembuat soal dan yang menilai tes kelulusan adalah para guru bidang studi mereka sendiri. Tentunya, soal-soal yang dibuat sesuai dengan silabus yang sudah diajarkan. Harapannya setiap soal atau proyek dari mulai tahun pertama belajar sampai tahun terakhir, semuanya mempunyai andil nilai dalam menentukan kelulusan.

Kedua, mengukur kemampuan siswanya secara komprehensif di 3 ranah tadi, yaitu psiko-kognitif, psiko-motorik dan psiko-afektif. Jika soal dibuat oleh pusat, mustahil dapat menilai komplit tiga ranah itu. Paling hanya kognitif saja. Sedangkan jika guru mereka sendiri yang membuat akan mampu melakukan itu.

Ketiga, konten soal harus sesuai dengan silabus yang sudah diajarkan. Betapa banyak soal dalam UN yang dirasakan masih asing oleh siswa dan mereka kurang familiar. Buktinya, rata-rata nilai UN yang sesungguhnya masih sangat rendah dan harus dikonversi dulu untuk meningkatkan persentase jumlah kelulusannya. Mirisnya, nilai-nilai UN yang tinggi disinyalir sebagian besar melalui proses kecurangan. Data wilayah hitam, abu-abu, dan putih yang dimiliki oleh BSNP atau Puspendik membuktikan adanya fakta ini.

Ke-empat, semua proses dan hasil pembelajaran harus dinilai. Tidak hanya pada akhir belajar dalam waktu 4 hari saja. Bagaimana record afektif siswa mulai tahun pertama sekolah sampai terakhir harus diukur. Bagaimana karya siswa atau penampilan siswa mulai dari tahun pertama sampai terakhir juga harus diukur. Juga tes-tes kognitif siswa. Untuk dapat menilai proses ini dengan adil, tentunya yang kompeten menentukan parameter kemampuan dan keberhasilan siswanya dalah guru-guru dari siswa masing-masing.

Ke-lima, soal yang disajikan harus lebih bervariasi, seperti adanya soal essay (isian). Jika ada soal isian, maka siswa lebih bisa menalar dan kecenderungan mencontek temannya lebih bisa diantisipasi. Pengukuran ranah kognitif pada soal isian juga bisa dibuat lebih baik dan inspiratif. Soal isian juga tidak mematikan penilaian menjadi salah dan benar, tetapi dapat diperoleh nilai yang berinterval.

Ke-enam, memasukkan seluruh bidang studi yang diampuh sebagai syarat kelulusan. Langkah ini dilakukan karena sampai hari ini seolah ada kesenjangan antara mata pelajaran yang di UN-kan dengan yang tidak di UN-kan, termasuk guru-gurunya. Melalui langkah menjadikan seluruh mata pelajaran sebagai penentu kelulusan akan mengurangi, bahkan menghilangkan kesenjangan tersebut.

Masalah keberatan siswa dengan banyaknya mata pelajaran sebagai penentu kelulusan akan terselesaikan, karena yang membuat soal adalah guru mereka sendiri. Jika soal dibuat oleh guru mereka sendiri, maka karakter dan muatan soal akan mudah dikenali dan dicerna siswa, seperti layaknya mengerjakan soal ulangan harian atau semester. Jika masalahnya kualitas soal yang dibuat belum baik, maka itu adalah tanggungjawab pemerintah untuk  meningkatkan kompetensi guru pembuatnya.

UN tahun 2013 sama saja dengan tahun lalu, yaitu standar kelulusan masih berada lebih besar di pihak pemerintah yakni 60 persen, dan 40 persen di pihak sekolah. Semestinya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berani untuk menggeser fungsi UN dari berfungsi untuk menentukan standar kelulusan, berubah menjadi untuk pemetaan kualitas pendidikan setiap distrik.

Untuk menggeser fungsi tersebut, semestinya tahun ini persentase standar keululusan diberikan porsi yang besar kepada sekolah. Mungkin 60 persen sekolah atau 80 persen sekolah, atau bahkan sampai 100 persen. Kemudian mata pelajaran yang di UN-kan masih itu-itu juga. Lalu jenis soalnya masih pilihan ganda. Jika ingin ada sinergitas antara kurikulum 2013 dengan UN 2013, maka langkah-langkah di atas perlu untuk mulai dilakukan, dan semestinya wajib dilakukan pada tahun pelajaran 2015/2016, di saat kurikulum 2013 serentak diberlakukan di seluruh jenjang pendidikan. Wallohua’lam. (*)

Baca "Guru Menulis" Lainnya

Komentar Anda