|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Guru Menulis » Menakar Pembelajaran Kurikulum 2013

Menakar Pembelajaran Kurikulum 2013

Rabu, 8 Mei 2013 11:57:47  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 535
Menakar Pembelajaran Kurikulum 2013

Kurikulum pendidikan nasional saat ini menganut pandangan konstruktivisme. Namun, dalam perjalanannya tak sesuai dengan falsafah tersebut. Adanya ujian nasional (UN) sebagai penentu kelulusan itu sangat tak sinkron dengan evaluasi pembelajaran konstruktivistik. Seharunya penentuan kelulusan berdasar nilai yang terkumpul melalui penilaian berbasis kelas, portofolio, dan penilaian otentik selama siswa mengikuti proses pembelajaran di jenjang sekolah tersebut. Jika memang kurikulum 2013 sedianya masih memakai acuan falsafah konstruktivisme, maka bagaimanakah pembelajaran dan evaluasi yang seharusnya?

Mengacu teori belajar konstruktivisme, kurikulum 2013 dalam pengelolaan pembelajarannya akan menekankan, 1) pemberian kesempatan pada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri. 2) Pemberian kesempatan untuk berfikir tentang pengalamannya, sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif. 3) Pemberian kesempatan untuk mencoba gagasan baru dan memikirkan perubahan gagasan. 4) Pemberian pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa. 5) Penyediaan lingkungan belajar yang kondusif.

Kelima hal di atas bisa dipenuhi manakala siswa bersikap aktif. Siswa bisa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahami sebelumnya.

Dengan demikian pembelajaran perlu dikembangkan pada kebutuhan dan kondisi siswa, dengan memicu rasa ingin tahu dan keterampilan memecahkan masalah melalui pembelajaran menemukan sendiri (inquiry learning), pembelajaran reflektif (reflective learning), dan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), yang biasanya menggunakan prosedur pemberian tugas, kerja kelompok, dan berbagi informasi.

Pada kurikulum 2013, belajar tak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, melainkan kegiatan menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh. Pemahaman diperoleh melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikirannya) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek.

Dengan demikian, pengetahuan tidak ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, melainkan pemberian pengetahuan melalui interaksi belajar siswa dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan. Sehingga terbentuklah apa yang dinamakan proses “mengonstruksi”.

 

Proses Pembelajaran

Untuk menyediakan ruang “kontruksi” bagi siswa, proses pembelajaran dalam kegiatan inti harus melalui tiga proses pembelajaran, yaitu eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi, guru bersama siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang tema yang dipelajari dari aneka sumber. Oleh karena itu, digunakan beragam pendekatan dan media pembelajaran yang atraktif serta efektif.

Guru hendaknya menggabungkan diskusi, simulasi, dan presentasi secara bergantian untuk membantu memfokuskan konsentrasi siswa pada materi yang disampaikan. Di samping itu, digunakan strategi yang bisa memfasilitasi siswa agar selalu aktif berinteraksi dengan guru dan sesama siswa lainnya. Sehingga akan membuat potensi yang dimilikinya tereksplor secara optimal.

Proses selanjutnya, guru mengelaborasi siswa agar mampu menganalisis permasalahan dalam tema pembelajaran hingga mampu menyajikannya dalam bentuk laporan dan mempresentasikannya. Pendekatan pembelajaran yang dianjurkan adalah pembelajaran kooperatif dan kolaboratif. Pendekatan pembelaran ini diharapkan bisa menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik terhadap produk yang telah dihasilkannya.

Setelah kedua proses pembelajaran itu, kemudian siswa bersama guru melakukan kegiatan konfirmasi. Meliputi pemberian umpan balik yang positif terhadap hasil belajar peserta didik, sekaligus merefleksi manfaat mempelajari tema tersebut. Dengan begitu, konsepsi kognitif yang dikonstruksi dalam kegiatan eksplorasi dan elaborasi semakin kuat. Disamping itu, ini bisa meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam menindaklanjuti kegiatan pembelajaran berikutnya. Sehingga siswa semakin antusias pada pembelajaran tahap berikutnya.

 

Evaluasi

Pada pendekatan konstruktivis yang menjadi fokus hasil belajar bukan hanya hasil, tetapi juga proses yang terjadi ketika siswa berusaha “mengonstruksi” pemahamannya. Evaluasi proses diarahkan pada tingkat keterlibatan, minat dan semangat siswa dalam proses pembelajaran, sedangkan evaluasi hasil lebih diarahkan pada tingkat pemahaman dan penyikapan siswa terhadap substansi materi dan manfaatnya bagi kehidupan siswa sehari-hari. Dengan demikian, diperoleh evaluasi secara menyeluruh. Baik itu aspek kognitif yakni, perkembangan strategi berpikir siswa (kemampuan berpikir analisis dan pemecahan masalah), aspek keterampilan sosial, serta perkembangan afektif.

Dalam mengevaluasi, instrumen (alat ukur) yang bisa digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dapat berupa tes hasil belajar. Tes pengetahuan yang dilakukan sebaiknya lebih banyak memakai soal berbasis kasus, portofolio, dan sebagainya. Sedangkan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa melakukan suatu tugas dapat berupa tes perbuatan atau keterampilan, kumpulan karya siswa selama kegiatan pembelajaran yang bisa ditampilkan dalam suatu paparan/pameran karya siswa. Untuk mengungkap sikap siswa terhadap materi pelajaran dapat berupa wawancara atau dialog secara informal.

Jika hal tersebut di atas benar-benar terjadi, maka dengan Kurikulum 2013 siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif. Semoga! (*)

 

Baca "Guru Menulis" Lainnya

Komentar Anda