|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Guru Menulis » Pat Gulipat Nasib Operator Sekolah

Pat Gulipat Nasib Operator Sekolah

Kamis, 5 September 2013 10:52:16  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 1376
Pat Gulipat Nasib Operator Sekolah

Perkembangan teknologi informasi mulai menyasar sekolah/madrasah. Komputerisasi dengan sistem online di sekolah/madrasah teraplikasi dalam berbagai bidang. Dari sistem pendataan siswa, pendidik dan tenaga kependidikan Era globalisasi informasi secara digital maupun online memang menjadi sebuah tuntutan bagi kita kaum pendidik menuju perkembangan arus
kemajuan pada zaman modern. Oleh karenanya, bagi setiap pendidik sekolah/madrasah baik itu di tingkat sekolah dasar maupun sekolah menengah wajib  menguasai program komputerisasi sebagai penunjang kerja yang profesional. Adanya gosip di berbagai sekolah/madrasah, bahwa kedepan nanti segala macam bentuk pendataan akan melalui sistem online, menjadi kalang kabut pengelola lembaga tersebut

Kesan pertama yang tertangkap adalah gagap teknologi terutama di lingkungan Sekolah Dasar. Idealnya, operator sekolah untuk Sekolah Dasar dipegang oleh kepala sekolah, karena Sekolah Dasar tidak memiliki tenaga Tata Usaha (TU). Namun demikian karena sesuatu hal, kepala sekolah bisa menugaskan kepada guru yang kemudian dikenal dengan “Operator Sekolah” yang bertugas menyelesaikan pendataan yang bersifat online.

Sebenarnya seandainya para guru lebih faham IT tentu akan meringankan tugas operator setidaknya mereka tahu prosesnya, bisa memahami ketika data sudah di-entri dan masih dalam proses tidak ribut karena datanya belum valid dan belum ditetapkan SK pencairan tunjangan dan lain sebagainya. Lebih-lebih yang bersangkutan sangat berharap TPP-nya segera cair, sering komplain bahkan tidak segan-segan mngeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan. Padahal, setahu penulis, update data memerlukan waktu apalagi Dapodik dijadikan dasar pencairan TPP, maka terjadi lonjakan akses ke server dari seluruh operator se Indonesia. Akibatnya terjadi bottle neck dan server down dan pada akhirnya menjadikan operator tiap malam harus begadang sampai pagi hanya untuk mencoba akses ke server pusat, dan paginya ditodong kepala sekolah/guru di sekolahnya dengan pertanyaan “SK saya sudah turun belum?”

Dengan tidak terbitnya SKTPP, Operator Dapodik dituding sebagai biang keladi. Benarkah demikian? Jawabannya bisa YA atau TIDAK 

Ada yang terlupakan, ketika para operator berjibaku memproses data guru di sekolahnya, yang nota benenya membantu kelancaran peningkatan kesejahteraan guru melalui realisasi tunjangan profesi mereka, nasib mereka cenderung terabaikan .Memang ada pembiayaan sesuai juknisnya tetapi itu hanya pada awal entry di awal tahun pelajaran, tetapi untuk ketugasan yang sebenarnya bukan tugas pokok sesuai tupoksinya. Hal ini dikarenakan mereka berangkat dari tenaga guru Wiyata Bakti (Sukwan) yang rata HR-nya jauh dibawah Upah Minimum Regional (UMR).

Memang  tidak ada aturan jelas mengenai hal ini dan cenderung diserahkan kepada kebijakan masing-masing sekolah yang belum tentu semua bijak. Sehingga kebanyakan operator hanya “gigit jari” sambil menyanyi dalam hati “Padamu Negeri” saat melihat para guru dengan asik menikmati tunjangan profesinya. Padahal mereka sering bekerja secara extra dan sering bekerja di luar jam kerja (Kecuali sang Operator adalah guru yang sudah bersertifikasi.)
Inilah jeritan hati sang operator yang sempat kami dengar. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua fihak.
(*)

Baca "Guru Menulis" Lainnya

Komentar Anda