|
Selamat Datang, Register | Login
Home » Guru Menulis » Menjadi Guru yang Menyenangkan

Menjadi Guru yang Menyenangkan

Sabtu, 14 April 2012 12:09:33  •  Oleh : redaksi  •    Dibaca : 411
Menjadi Guru yang Menyenangkan

Ada satu kecenderungan yang menurut saya cukup memprihatinkan di dunia pendidikan yaitu saat terjadinya hubungan yang disharmonis antara guru dan murid. Mungkin ini tidak terlalu banyak tampak, tapi saya yakin pasti banyak terjadi. Saya ingin menyampaikan satu opini sekaligus pengalaman, yang saya mohon jangan dianggap sebagai curhat colongan. Ambil positifnya saja.

Terkadang hubungan antara sang guru dan sang murid terkesan biasa-biasa saja, tapi ketika berada di sisi lain, seorang guru mempunyai catatan khusus baik tertulis di hati maupun dikertas tentang anak didiknya. Begitupun dipojokan sana sang murid tidak mau kalah, Ia mempunyai catatan hati dan pikiran tersendiri  mengenai guru-guru yang bermasalah menurut pikirannya atau bahkan yang sangat menyenangkan. 

Menjadi guru yang menyenangkan tentunya bukanlah tujuan  utama, melainkan sebuah tujuan untuk langkah awal supaya bisa menjadi magnet penyemangat buat belajar siswa, agar kehadirannya selalu diharapkan dan ketidakhadirannya tidak disyukuri. Pepatah untuk seorang siswa mengatakan “sukai dulu gurunya, selanjutnya akan menyukai mata pelajarannya”. Suka yang dalam artian positif, yang menjadi jembatan transformasi ilmu dan teladan dari seorang guru kepada seorang murid.

Di mata seorang siswa ada klasifikasi guru yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, begitu juga di pandangan seorang guru ada murid yang menyenangkan juga tidak menyenangkan. Celakanya adalah ketika saling beranggapan “dia tidak menyenangkan !”.

Adanya sifat “menyenangkan” dan “tidak menyenangkan” kadang sebetulnya itu bukan faktor bawaan atau alamiah, akan tetapi ada faktor-faktor lain yang memberikan pengaruh kepada diri seorang guru maupun siswa. 

Contohnya ada siswa yang sangat menyebalkan sekali, tingkahnya petitilan, tengil, dan juga sombong. Usut punya usut ternyata sifat itu tumbuh karena dia terlahir dari keluarga kaya raya namun kurang bimbingan soal moral karena kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja. Kemudian contoh lainnya adalah ada seorang murid yang selalu terlihat pendiam tapi murung, respon belajarnya tidak fokus dan kurang bersemangat. 

Sifat ini tentu kurang  menyenangkan buat seorang guru, karena guru pasti lebih senang kepada siswa yang aktif dan memberikan respon. Ketika ditinjau lebih dekat ternyata sifat si anak tersebut dipengaruhi oleh banyak problem baik di keluarganya maupun kelabilan emosionalnya, dan ia merasa tidak ada sosok satupun yang bisa ia jadikan sebagai tempat menumpahkan keluh kesahnya, selain ada rasa malu juga takut.

Belajar dari contoh kedua, masalah akan muncul ketika seorang guru tidak melakukan pendekatan yang halus dan persuasif untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Disinilah tantangan  kembali hadir bagi seorang guru, ia dituntut untuk bisa menjadi pribadi yang bisa dipercaya oleh sang murid. Dituntut untuk bisa menjadi  pendengar yang baik dan juga pemberi solusi yang tepat. 

Masalah lainnya adalah ketika dipikiran si anak murid yang sedang dalam problem dan membuatnya menjadi tidak menyenangkan itu mulai muncul pikiran “hih, tidak ngerti amat sih nih orang !”. Dia ingin dimengerti oleh orang lain termasuk gurunya, sedangkan dia sendiri tidak bercerita apapun tentang persoalanya. Mungkin ia hanya sekedar berharap kalau orang sekitarnya bisa memahami kalau dia sedang punya masalah, tapi kan justru pada dasarnya kebanyakan ingin dimengerti dan dipahami sampai ke akar permasalahannya dia, kalau perlu sampai tuntas dan paling tidak bisa ditumpahkan biar ngemplong.

Disini, pesan buat seorang murid yang ingin dimengerti tentang kondisi dan persoalannya ; Jangan dipendam, karena orang tidak akan pernah mengerti seutuhnya kalau kita tidak mau mengungkapkannya. Cobalah jelaskan apa adanya, jelaskan kepada orang yang tepat, yang menurut logika kita orang tersebut bisa dipercaya dan bahkan bisa memberi solusi, mungkin salah satunya adalah guru kita. 

Antara guru dan murid harus terbangun kedekatan emosional yang baik, yang tidak memberi celah adanya dusta diantara keduanya. Saya  termasuk orang yang banyak problem, dan itu sempat menggangu kegiatan belajar saya. Berat memang ketika kemana-kemana kita membawa persoalan dan seakan tidak ada yang bisa mengerti. Ternyata masalahnya bukan orang lain yang tidak mau mengerti, tapi sayanya sendiri yang tidak pernah memberikan penjelasan. (*)

 

Baca "Guru Menulis" Lainnya

Komentar Anda